Welcome to my blog !

Hello everyone, thank you for visiting my blog ^^v

Kamis, 27 Desember 2012

Mau tahu dahsyatnya Angin Bahorok ?


Bahorok adalah sebuah kecamatan  di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Indonesia. Beribukota di kelurahan Bahorok,sebagian wilayah kecamatan ini terletak di dalam Taman Nasional Gunung Lausser termasuk Bukit Lawang. Merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Langkat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. (wikipedia)
Acap pergi ke Turangi dan Bukit Lawang, Bukit Lawang pula adalah nama tempat wisata, yang terletak 68 km sebelah barat laut Kota Binjai dan sekitar 80 km di sebelah barat laut kota Medan. Bukit Lawang termasuk dalam lingkup Taman Nasional Gunung Lausser yang merupakan daerah konservasi terhadap  Oran Utan.
Beberapa tahun lalu tepatnya pada tanggal 2 Nopember 2003, Bukit Lawang dilanda tragedi banjir bandang yang menyebabkan ratusan rumah penduduk serta wisma-wisma penginapan di tepian Sungai Bahorok hancur lebur. (wikipedia) .
Disana ada pakcik kami yang bekerja di perkebunan Karet, tetapi saya belum pernah ke lokasi lembah Bahorok, meskipun jarak nya dari Bukit Lawang tak begitu jauh.
Karena untuk mencapai tempat perputaran angin itu,  yaitu perputaran angin yang bertiup dari Samudra Indonesia ke lembah Bahorok di kaki gunung Lauser itu, memerlukan waktu berjam-jam lamanya dengan berjalan kaki. “Tak ada kenderaan kesana” ujar Iwan.  “Kalau hendak kesana ada penunjuk jalan, orang setempat” jelas Iwan lagi kepada ku.
Melalui jalan setapak , setelah tempat penangkaran orang hutan Bukit Lawang, lereng bukit terjal telah menunggu. Kalau diambil garis lurus jarak ke tempat yang dituju hanya 6 (enam) kilometer saja.


Fenomena Angin Bahorok
Angin Bahorok sebenarnya adalah angin Fohn yang terjadi di Deli Sumatera Utara. Fenomena terjadinya angin Bahorok ini tidak terlepas dengan terjadinya angin Monsun Tenggara, yang di Sumatera Utara berubah menjadi angin monsun Barat Daya.
Angin Bahorok adalah massa udara yang telah kehilangan uap airnya dibagian atas angin dari pegunungan, jatuh dengan kecepatan besar di sebelah bawah angin dari pegunungan itu sebagai angin panas yang kering. Terjadinya angin bahorok oleh karena gerakan massa udara (angin Monsun, Gambar terlampir) ditahan oleh pegunungan bukit barisan sehigga udara itu dipaksa naik ke atmosfir lebih tinggi dan dipaksa melakukan kondensasi, dimana gradien temperatur udara basah lebih kecil dari pada gradien temperatur udara kering. Kondensasi yang terjadi oleh pendakian udara basah akan melepaskan sejumlah panas latent (yaitu panas uap) dan panas ini diterima oleh udara itu sendiri (proses adiabatis). Oleh karena itu disamping terjadi pendinginan selama pendakian udara itu juga mengalami pemanasan dari penyerahan panas latent itu, sehingga gradien temperaturnya berkurang. Gradient temperatur adiabatik kering 0,9 ° C/100 meter dan gradient adiabatik basah 0,6 ° C/100 meter.
Fenomena ini dapat diperjelas sbb;
Udara bertiup (angin monsun barat daya, Gambar terlampir) dari pantai barat Sumatera Utara mendaki pegunungan bukit barisan, dipaksa melakukan kondensasi, sepanjang jalan dan disana sini uap air jatuh menjadi hujan atau tinggal sebagai awan. Jika sebelum udara melewati puncak bukit barisan seluruh uap air tinggal sebagai awan atau jatuh sebagai hujan suhunya akan turun 0,6 ° C/100 meter, sedangkan udara yang tinggal akan terus bergerak dengan kecepatan tinggi melewati bukit barisan dan akan turun ke pantai timur Sumatera Utara, dimana suhunya akan naik 0,9° C/100 meter penurunan . Dengan demikian udara yang sampai di daratan pantai timur (bawah angin) akan menjadi lebih panas dan kering dari asalnya.

Fenomena ini dapat dicontohkan dengan angka-angka sbb(seperti Gambar terlampir);
Pada bulan April-Oktober bertiup angin monsun barat daya di Sumatera Utara mendaki lereng bukit barisan mengandung uap air yang tinggi dari lautan Hindia. Jika tinggi bukit barisan ± 2500 meter dari permukaan laut dan Langkat 100 meter dpl, seandainya suhu awal dipantai barat 28,0 ° C maka selama pendakian temperatur turun menurut adiabatik basah (0,6° C/100 meter), sehingga suhu dipuncak bukit barisan menjadi :

Tp = 28,0 – 2500 x 0,6/100 = 13 ° C.
Penurunan massa udara dari puncak pegunungan menuju Langkat suhu akan naik menurut adiabatik kering (0,9 ° C/100 meter) sehingga suhu di Langkat menjadi
T = 13 + (2500-100) x 0,6/100 = 34,6 ° C.
jadi suhu yang tadinya 28.0° C setelah melewati gunung berobah menjadi 34,6° C di Langkat. Pada gerakan menurun bawah angin dipercepat lagi oleh gaya beratnya sendiri sehingga gerakan jatuhnya menjadi lebih kencang, oleh pemampatan massa udara akan menjadi lebih panas lagi. Akibatnya akan memperbesar laju evaporasi dan transpirasi, sehingga tembakau yang masih muda akan langsung layu. Karena arahnya selalu dari barat daya dari Langkat, dan disana ada desa Bahorok, maka disebut orang Angin Bahorok.http://imbalo.files.wordpress.com/2011/10/bhorok.jpg?w=300

Tidak ada komentar:

Posting Komentar